Berita Lowongan Kerja Terbaru

 

MALUKU TENGGARA BARAT

MENGENAL MALUKU TENGGARA BARAT

GEOGRAFI

Kondisi geografis wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang terletak pada koordinat 6 34’24” – 8 24’36” Lintang Selatan dan 13037’47” – 133 4’12” Bujur Timur.

Adapun letaknya menurut geografi dibatasi antara lain oleh :

Sebelah Utara : Laut Banda

Sebelah Selatan : Laut Timor dan Samudera Pasifik

Sebelah Barat : Gugus Pulau Babar Sermatang

Sebelah Timur : Laut Arafura

Luas Wilayah

Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan daerah kepulauan dan terkonsentrasi pada Gugus Pulau Tanimbar yang mempunyai luas keseluruhan 52.995, 20 km2 yang terdiri dari wilayah daratan seluas 10.102,92 km2 (19,06%) dan wilayah perairan seluas ± 42.892,28 km2 (80,94%).

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat terdiri dari banyak pulau, baik itu yang berpenghuni maupun yang masih belum tersentuh, dengan jumlah total pulau sebanyak 113 pulau.

 

DEMOGRAFI

Sumber utama data kependudukan adalah Sensus Penduduk yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Sensus penduduk telah dilaksanakan sebanyak enam kali sejak Indonesia merdeka sejak Indonesia merdeka, dan yang terakhir adalah Sensus Penduduk Tahun 2015. Selain itu dalam rangka mengetahui jumlah penduduk untuk tahun-tahun di luar tahun sensus dilakukanlah proyeksi penduduk, seperti data penduduk tahun 2015.

Dari sisi demografi, jumlah penduduk Kabupaten Maluku Tenggara Barat sebanyak 110.425 jiwa pada tahun 2015 (data BPS 2015)

 

Jumlah Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, 2015
Kecamatan 2015
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 2 3 4
1. Tanimbar Selatan 16767 16327 33094
2. Wertamrian 5060 5117 10177
3. Wermaktian 5820 5611 11431
4. Selaru 6390 6451 12841
5. Tanimbar Utara 6888 6977 13865
6. Yaru 2495 2547 5042
7. Wuarlabobar 3821 3655 7476
8. Nirunmas 3651 3733 7384
9. Kormomoiln 3114 3093 6207
10. Molu Maru 1501 1407 2908
Kab. Maluku Tenggara Barat 55507 54918 110425
       

*sumber data BPS Kabupaten Maluku Tenggara Barat

ARTI LAMBANG KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT


LAMBANG DAERAH

KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT

SESUAI PERDA NO. 39/SK/DPRD-MTB/2002

Tanggal, 09 November 2002

 

Nama Bentuk dan Arti Lambang :

  1. Lambang Daerah bernama Duan Lolat, merupakan suatu hukum adat tertinggi yang lahir dan hidup berdasarkan hak dan tanggung jawab timbal balik antara keluarga pemberi dan keluarga penerima anak dara dalam berbagai aspek hidup multidimensional masyarakat warga Maluku Tenggara Barat dimana saja berada yang aktual dan konseptual.
  2. Bentuk Lambang Daeerah bersudut lima yang melambangkan Pancasila dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di dalam Lambang Daerah terdapat lukisan-lukisan yang merupakan unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Bintang
    • Melambangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga menghantarkan cita-cita masyarakat Maluku Tenggara Barat menuju kejayaan.
  2. Padi dan Kapas
    • Melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan kemakmuran sebagai wujud keadilan sosial bagi masyarakat.
  3. Laut
    • Melambangkan Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah Kabupaten Kelautan dengan penjelasan :
      • Kabupaten Maluku Tenggara Barat merupakan daerah kepulauan yang luas wilayahnya 88,4% terdiri dari laut dan sisanya 11,6% terdiri dari darat.
      • Laut juaga melambangkan karakteristik, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat Maluku Tenggara Barat sebagai masyarakat maritim.
  4. Perahu
    • Perahu selain mempunyai arti sebagai alat transportasi dan komunikasi antar pulau yang menggambarkan kehidupan masyarakat Maluku Tenggara Barat sejak dahulu kala, juga mempunyai arti sebagai suatu kebiasaan adat sesuai fungsi adat masing-masing sekaligus sebagai sarana persatuan dan kesatuan.
  5. Tiga Orang Yang Berada dalam perahu melambangkan tugas, kedudukan dan fungsi masing-masing :
    • Yang berada paling depan dengan gelar atau nama Sorlury, yang artinya Pemegang Kompas, sebagai penunjuk arah.
    • Yang berada pada posisi tengah dengan gelar atau nama Saritual, yang artinya Pemegang Kendali Perlengkapan Perahu.
    • Yang berada paling belakang dengan gelar atau nama Sormudin, yang artinya juru mudi perahu.
  6. Mpampal
    • Mapampal atau tifa besar komando yang bertumpu pada tiga kaki menggambarkan masyarakat Maluku Tenggara Barat sejak dahulu telah mengetahui dan melaksanakan musyawarah mufakat. Jika Mpampal atau tifa dibunyikan menandakan adanya suatu komando musyawarah untuk mengambil satu keputusan, sedangkan tiga kaki Mpampal atau tifa melambangkan unsur adat, agama dan pemerintah sebagai satu kesatuan yang melindungi dan mengayomi kehidupan masyarakat.
  7. Kain Tenun
    • Kain Tenun selain mempunyai ciri khas kerajinan kebudayaan masyarakat Maluku Tenggara Barat, juga memilikki nilai-nilai adat yang sangat sakral dalam pelaksanaan adat istiadat.
  8. Tombak
    • Tombak melambangkan keperkasaan dan patriotisme.
  9. Lima Tali Yang Mengikat Padi dan Kapas
    • Lima Tali Yang Mengikat Padi dan Kapas melambangkan bahwa Kabupaten Maluku Tenggara Barat lahir dan terbentuk dengan landasan lima kecamatan.

 

VISI DAN MISI
VISI

Pengertian Visi menurut Undang-Undang 25 tahun 2004 pasal 1 angka 12 adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Hal ini berarti bahwa visi yang tercantum dalam RPJMD Kabupaten Maluku Tenggara Barat harus dicapai pada tahun 2017. Selanjutnya pada pasal 5 ayat (2) disebutkan bahwa RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. Oleh karenanya, maka perumusan visi, misi dan program dalam RPJMD Kota Malang ini 2011-2017 tidak hanya berasal dari visi, misi dan program Kepala Daerah saja, namun sudah dilakukan beberapa penyesuaian dari semua acuan dimaksud.

“MEWUJUDKAN MASYARAKAT MALUKU TENGGARA BARAT YANG SEJAHTERA DAN MANDIRI MELALUI PEMBANGUNAN YANG INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN”

MISI

Dalam rangka mewujudkan visi sebagaimana tersebut di atas, maka misi pembangunan dalam Kabupaten Maluku Tenggara Barat Tahun 2011-2017 adalah sebagai berikut :

  1. Mewujudkan masyarakat yang memiliki diversifikasi usaha yang berorientasi kepada agrobisnis serta ketahanan ekonomi, dengan pendapatan yang semakin meningkat dan merata sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
  2. Mewujudkan kemandirian masyarakat MTB di bidang sosial, budaya, politik, dan pemerintahan, sebagai modal sosial (social capital) untuk berkembang ke masa depan.
  3. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan ke seluruh wilayah dan segenap lapisan masyarakat.
  4. Mewujudkan kelestarian lingkungan untuk menyongsong masa depan masyarakat MTB yang lebih maju, dan berkelanjutan dan berkebereradaban.

 

 

Admin

Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC menegaskan bahwa Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I yang mulai digelar pada Sabtu (27/10) di Ambon, ibukota Propinsi Maluku, merupakan “altar perdamaian dan kerukunan.”

“Jadi Pesparani ini merupakan sebuah pewartaan betapa penting kerukunan antar-umat beragama. Jangan jadikan agama (sebagai) sumber pertentangan, tetapi agama (sebagai) sumber perdamaian. Dan ini akan dinyatakan oleh Pesparani,” kata prelatus itu kepada jurnalis beberapa jam menjelang pembukaan acara tersebut.

“Kita sekarang – seringkali karena poliitk – muka muram, saling fitnah, saling dusta. Maka Pesparani ini mewartakan kepada masyarakat Indonesia (bahwa) ada satu sisi kehidupan manusia yang penting yakni optimisme dan kegembiraan. Inilah yang ingin dinyatakan oleh Pesparani ini,” lanjutnya.

Mgr Mandagi pun menyarankan masyarakat di Propinsi Maluku pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya agar tidak hanya berfokus pada kepastian kehadiran Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada acara tersebut.

“Tentu senang presiden hadir. Tapi walaupun tidak hadir, marilah bersama-sama dengan Bapak Presiden yang tidak hadir, kita bergembira di sini. Hal Itu yang paling penting,” katanya.

Menurut Mgr Mandagi, masalah sering muncul karena masyarakat tidak saling berjumpa dan kemudian saling memusuhi.

“Padahal agama mengajarkan cinta kasih dan persaudaraan. Dan ini tema dari Pesparani ini. Ini yang terpenting saat ini,” tegasnya.

Lebih dari 7.000 umat Katolik dari 34 propinsi memadati Kota Ambon untuk mengikuti Pesparani Katolik Nasional I bertema “Membangun Persaudaraan Sejati.” Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) ini akan berakhir pada 2 November.

“Jadi meskioun presiden tidak datang dan hadir secara lain, tetapi kegembiraan dan sukacita harus menjadi warna dari Pesparani ini,” tegas Mgr Mandagi.

Senada, Ketua LP3KN Adrianus Meliala menyatakan bahwa Presiden Jokowi berhalangan hadir.

“Namun kami dapat keterangan bahwa Bapak Presiden akan hadir dalam bentuk yang lain. Bapak Presiden akan hadir dalam bentuk digital,” katanya.

Ia juga mengatakan penyelenggara tidak akan berhenti pada program itu saja dan akan bekerja untuk empat tahun ke depan.

“Maka kami akan menjadikan momen ini sebagai momen belajar. Mungkin dari situlah konteks membangun persaudaraan sejati dibangun,” jelasnya.

Sementara itu, Mgr Mandagi berharap semua peserta akan membawa pulang semangat persaudaraan ke daerah mereka masing-masing.

“Mungkin agak sulit juga, pasti tidak gampang juga. Saya selalu punya prinsip bahwa pesta ini juga pewartaan kebenaran. Kebenaran apa? Persaudaraan itu kebenaran utama,” katanya.

Piala Presiden dan Piala Juara Umum

Pemenang Pesparani Katolik Nasional I akan mendapat Piala Presiden berwarna kuning keemasan dan Piala Juara Umum berwarna putih.

George William Timorason, seorang pemuda asal Ambon yang membuat kedua piala itu, mengatakan ia menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu 12 hari.

“Sebetulnya saya tidak menyangka momen ini akan datang kepada saya. Saya datang dari Bandung dan saya seniman otodidak,” katanya.

Untuk Piala Presiden, George mengatakan ia sengaja mengambil bentuk Garuda Pancasila kontemporer.

“Karena kita bicara generasi ke generasi. Generasi dulu sangat letter lux dengan lambang Garuda Pancasila. Generasi sekarang yang penting energinya,” lanjutnya, seraya mengatakan Garuda Pancasila pada Piala Presiden dibuat berlubang untuk menunjukkan Propinsi Maluku sebagai sebuah kepulauan.

Selain salib Yesus, Piala Presiden juga mengambil bentuk malaikat. “Malaikat memetik harpa, pasti dia menyanyi,” jelasnya.

(sumber : https://indonesia.ucanews.com/2018/10/27/mgr-mandagi-pesparani-sebagai-altar-perdamaian-dan-kerukunan/ )

 

Dua buah Piala yang akan diperebutkan di Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik telah tiba di Ambon, Sabtu,27/10. Kehadiran piala ini disambut dengan sukacita oleh panitia lokal. “Saya terharu melihat dua piala yang begitu indah. Saya bangga karena piala ini dibuat oleh seorang anak daerah dari Maluku, ungkap Uskup Manado Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Hadirnya dua piala ini tak lepas dari perjuangan sang pemahat George William Tomarason-seorang pemahat asal Desa Hative, Ambon yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

Geroge sendiri mengatakan menyelesaikan patung ini dalam 12 hari menyelesaikan patung. Ia tak menyangka mendapatkan momen langkah membuat dua patung dari gold dan silver ini. Ia mengatakan ketika ditawarkan untuk membuat patung, ia hanya menepuk jidat karena diberi waktu yang sangat singkat. Panitia menghubunginya di saat waktu sangat singkat. “Tetapi ada panggilan untuk membuat karena yakin semua berkat Roh Kudus,” papar George.

Soal model piala ada beberapa unsur dalam piala ini. Pertama, ada lambang burung Garuda. Bila ditengok Garuda di patung tidak seperti Garuda kontemporer tetapi milenial untuk menjawab kebutuhan anak muda. Kedua ada patung Yesus tergantung di salib untuk menggambarkan iman kita sebagai orang Kristen.

Ketiga ada patung malaikat. Bukan malaikat yang meniup sangkakala tetapi bermain harpa, untuk mejelaskan Pesta Paduan Suara. Keempat ada unsur budaya lokal Amboina yaitu sayap Garuda ada bolong sebagai gambaran Maluku sebagai Provinsi Kepulauan Maluku ada siput sebagai khasanah khas Maluku.

“Pesan utama yang mau disampaikan adalah dua piala ini kiranya menggambarkan Maluku sebagai laboratorium keberagaman. Karena itu unsur-unsur lokal, keindonesiaan dan keagamaan,” ujar George.

Sementara itu merefleksikan piala yang akan diperebutkan itu, Mgr Mandagi mengatakan dalam piala ini ada salib sebagai lambang pengorbanan. Pesparani ini melambangkan pengorbanan yaitu orang-orang yang berkorban demi suksesnya Pesparani.

 

 

Kemudian soal malaikat dengan harpa Mgr Mandagi mengatakan kita perlu bergembira karena ini pesta iman kita. Ia menyebutkan orang yang tidak bergembira berarti yang hatinya dihinggapi setan sehingga dalam dirinya tidak ingin berdamai. “Setan-setan itulah yang membuat indahnya toleransi dan saling menghargai menjadi hancur,” pungkasnya.

Bagian lain refleksinya adalah soal burung Garuda. Mgr Mandagi mengatakan hal ini sesuai dengan semboyan bangsa kita dan tema Pesparani yaitu Membangun Persaudaraan Sejati. Karena kita hidup bersama maka perlu membangun hidup dalam persaudaraan. Jangan menyebarkan hoax, politik kotor bagi orang lain,” harap Mgr Mandagi.

Yusti H Wuarmanuk

(sumber : http://www.hidupkatolik.com/2018/10/27/28002/dua-piala-pesparani-berunsur-keindonesiaan-keagamaan-dan-kebudayaan-lokal/ )

 

Ambon, 27 Oktober 2018. Panitia Pesparani I 2018 mengadakan Konferensi Pers untuk menjawab pertanyaan hadir tidaknya Presiden Jokowi di Pembukaan Pesparani I 2018, yang bertempat di Lantai 2 Kantor Gubernur Maluku. Dalam konferensi pers ini hadir Sekretaris umum Panitia lokal Titus Rahail, Ketua LP3KN Adrianus Eliasta Meliala, dan Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Ketua LP3KN Adrianus Eliasta Meliala menjelaskan bahwa panitia lokal maupun pusat sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghadirkan Presiden Joko Widodo. Tetapi semua keputusan tentu dengan pertimbangan lain sehingga beliau tidak berkesempatan hadir. “Meski begitu Presiden akan hadir secara digital lewat sambutan video kepada masyarakat Maluku secara khusus dan peserta Pesparani,” ungkap Adrianus dihadapan 40 wartawan baik nasional dan lokal,

Dipastikan Presiden Jokowi tidak akan menghadiri pembukaan Pesparani tingkat nasional I di kota Ambon. Dan akan diwakilkan oleh Menteri ESDM Ignasius Yonan untuk membuka pesta paduan suara umat Khatolik terakbar di tanah air ini.

Sebagai Tuan Rumah dari Pesparani Tingkat Nasional I 2018 di Ambon, Mgr Mandagi mengaku sangat bangga, dan senang bahwa pada akhirnya Pesparani Katolik yang sudah lama dinantikan oleh masyarakat Khatolik ini akhirnya bisa terlaksana dan untuk pertama kalinya dilaksanakan di kota Ambon.

Mgr Mandagi juga menjelaskan soal hakikat Pesparani sesungguhnya. Menurutnya ketidakhadiran orang nomor satu di negeri ini kiranya tidak mengurangi rasa sukacita sebagai satu kesatuan dalam acara ini.

“Ini merupakan pesta sukacita dan kegembiraan, jadi meskipun Bapak Presiden tidak datang tapi hadir secara lain, tetapi kegembiraan dan sukacita harus menjadi warna dari Pesparani ini” Tambah Mgr  Mandagi.

Mgr Mandagi mengatakan Pesparani adalah kesempatan untuk mempertobatkan diri kita sebagai umat yang percaya kepada Tuhan. Harusnya event besar ini melambangkan sebuah tahap dimana kita semua mau membangun kerukunan antar umat beragama tanpa sekat.

“Ini adalah momen membangun kerukunan antar umat beragama karena saat ini banyak orang karena politik menjadi ‘setan’ bagi orang lain. Setan sudah pensiun karena banyak orang Kristen sudah menjadi setan dengan tingkah laku yang tidak mencerminkan Kristus,” ungkap Mgr Mandagi.

Sementara itu Titus mengatakan sedikitnya 12.000 peserta sudah menyemut di Kota Ambon. Sebagai panitia mereka berharap agar segala sesuatu dapat berjalan dengan baik agar tersuksesnya kegiatan ini. (*)

 

Thursday, 25 October 2018 03:05

Lokasi Penginapan Peserta

Thursday, 25 October 2018 02:10

DAFTAR PESERTA

Thursday, 25 October 2018 01:20

Dokumen Petunjuk Teknis

 

AMBON-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku kembali meraih prestasi di tingkat nasional. Kali ini, Pemprov Maluku meraih penghargaan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia sebagai salah satu dari 18 (delapan belas) Provinsi yang telah menyelesaikan seluruh Tindak Lanjut Hasil Pengawasan (TLHP) Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah oleh Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tepat waktu.  
Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Mendagri, Tjahyo Kumolo, dalam Rapat Pemutakhiran Data TLHP Nasional Tahun 2018 di Bengkulu, yang diterima Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua. Selain Pemprov Maluku, Pemprov lain yang mendapatkan penghargaan serupa yakni, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Barat, Lampung, Bali, Jawa Timur,  Sumatera Selatan,  Riau, Kepulauan Riau, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat,Bengkulu, Sumatera Utara, Dan Banten.

Demikian disampaikan Inspektur Provinsi Maluku, Semmy Risambessy kepada pers di Kantor Gubernur Maluku, Selasa (23/10).Risambessy menjelaskan, setiap tahun Itjen Kemendagri melakukan pemeriksaan di Pemerintah Provinsi. Dari hasil pemeriksaan tersebut ada rekomendasi berupa Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang harus ditindaklanjuti.
“Kita tahu bahwa Itjen Kemendagri setiap tahun melakukan pemeriksaan di Pemerintah Provinsi. Terkait dengan itu, maka Inspektorat Daerah berkewajiban untuk menyelesaikan tindaklanjut hasil temuan,” ungkap Risambessy.


Terkait TLHP, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pasal 27 Ayat(5) telah mengatur bahwa tindak lanjut hasil pembinaan dan pengawasan yang tidak terkait dengan Tuntutan Perbendaharaan dan/atau Tuntutan Ganti Rugi dilaksanakan paling lama 60 hari kerja, setelah hasil pengawasan diterima.
“Jadi, setelah hasil pengawasan Itjen diterima oleh Inspektorat Provinsi, paling lambat 60 hari kerja sudah ditindaklanjuti,” kata Risambessy menjelaskan.
Risambessy juga mengatakan, Inspektorat bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
“Ketika Hasil pemeriksaan berupa temuan Itjen itu diserahkan ke kita, maka kita langsung tindaklanjuti dengan turun ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kita melakukan pendampingan dengan memberikan arahan supaya setiap SKPD bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku. Kita berusaha untuk mencegah, meminimalisir temuan, sehingga ketika Itjen melakukan pemeriksaan, temuan semakin hari semakin kecil,” harapnya.
Inspektorat Maluku, sebut Risambessy, selama ini telah bekerja maksimal. Pasalnya, selama 3 (tiga) tahun berturut-turut telah menerima penghargaan dari Mendagri.
 “Jadi, kami juga telah bekerja maksimal terkait dengan penyelesaian tindaklanjut temuan Itjen. Nah, disitulah yang menjadi salah satu kriteria penilaian, provinsi mana yang cepat melakukan tindak lanjut. Dan saat ini sudah tahun ke-4, Pemerintah Provinsi Maluku mendapat penghargaan dari Mendagri,” tandas Risambessy (**)

(sumber dan foto: Humas Setda Maluku)

 

Tuesday, 23 October 2018 01:44

Laporan IPK Juni 2018

Berikut kami lampirkan Laporan IPK posisi Bulan Juni 2018

 

Laporan IPK Juni 2018.xlxs

Page 5 of 52

Iklan Layanan Masyarakat

About

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku

Jl. Dr. Latumeten, Perigi Lima - Ambon

No.Telp/Fax :0911 – 342460

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

           
 

GPR

 

INFO BMKG

Top