Berita Lowongan Kerja Terbaru

Semmy

AMBON - Gubernur Maluku Said Assagaff, bersama Walikota Ambon Richard Louhenapessy dan Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun, melakukan pemasangan lantai granit perdana di Gereja Ebenhaezer Negeri Haruku-Sameth, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Senin (10/7).

Ikut hadir pada acara ini, Sektetaris Kota Ambon A.G. Latuheru, serta sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku.

Dalam sambutannya sebelum peletakan lantai granit perdana, Gubernur katakan, meski keinginan Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Haruku - Sameth bahwa tahun 2019, gedung gereja ini sudah rampung, namun dirinya yakin sudah bisa selesai di akhir tahun ini.

Gubernur berjanji, akan ikut membantu penyelesaian pembangunan Gedung Gereja milik Jemaat GPM dari kedua desa tersebut.

"Saya yakin atas bantuan kita semua, saya akan bantu, untuk bisa menyelesaikan pembangunan gedung gereja ini," ujar Gubernur.

Menurut Gubernur, dirinya selalu menyampaikan di setiap kesempatan, agar membangun daerah ini dengan hati.

"Siapa yang hatinya bersih, maka dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik di negeri ini," tandas Gubernur yang meyakini, dirinya memimpin daerah ini dengan bersih.

Selanjutnya Gubernur meminta, kepada pihak panitia pembangunan gedung Gereja Ebenhaezer Haruku - Sameth, agar nantinya menjelang Natal, dibikinkan acara makan patita bersama, yang juga mengundang Gubernur dan rombongan.

"Mungkin bisa ada tambahan-tambahan dana dari kita yang hadir pada acara itu, untuk menuntaskan pembangunan gedung Gereja Ebenhaezer ini," ujarnya.

Sementara Ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja Richard Louhenapessy dalam sambutannya mengatakan, warga Haruku dan Sameth harus bersyukur karena tidak semua desa dapat dikunjungi oleh Gubernur.

"Kehadiran Pak Gubernur di sini, bukan karena saya sehingga beliau dan Pak Bupati Maluku Tenggara datang. Saudara-sadara harus percaya betul bahwa kehadiran mereka di sini karena Tuhan menggerakan hati Pak Bib dan Pak Andre untuk datang," tandas Louhenapessy yang juga Walikota Ambon ini.

Menurut Louhenapessy, selama ini masyarakat kedua negeri, membangun gereja terssbut dengan swadaya murni dari masyarakat.

"Pembangunannya sudah cukup lama. Sudah selama 10 tahun, sejak peletakan batu pertama. Itu karena semua perlu cari uang dulu. Masih tinggal kaca dan pintunya dan beberapa pekerjaan kecil untuk finishing. Kita harap Desember bisa selesai karena kita 2019 jadi tuan rumah MPL," harap Louhenapessy.(*)

-Foto: Humas Pemprov Maluku

AMBON - Harapan Gubernur Maluku Said Assagaff agar tokoh-tokoh Maluku yang ada di Jakarta, ikut memberikan sumbang pikiran bagi kemajuan daerah, diapresiasi para tokoh seperti Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy dan Mayjen TNI (Purn) Max Tamaela.

"Saya pikir selama ini memang kami coba memberikan kontribusi seperti diharapkan Pak Gubernur. Beliau juga sudah merespon dengan sangat baik," ujar Suaidi usai acara Halal Bi Halal Pemda Provinsi Maluku bersama Masyarakat Maluku di Jakarta, berlangsung di The Molvcca, Jakarta, Sabtu (8/7).

Salah satu contohnya, menurut Suadi, sebelum acara Halal Bi Halal, dirinya bersama Gubernur dan beberapa tokoh di Jakarta, bertemu dalam rangka sumbangsih pemikiran bagaimana membangun Maluku ke depan.

"Sebab memang tanpa kesejahteraan, persoalan-persoalan sosial politik akan menjadi masalah. Kita harus mulai bergerak bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku, dan Maluku punya peluang yang sangat besar. Dan tinggal bagaimana kita memanfaatkan itu," paparnya.

Menyinggung beberapa insiden terakhir di Ambon, Suadi menilai, itu persoalan dan pekerjaan rumah bagi kita semua, khususnya bagi Pemerintah Daerah dan aparat keamanan di Maluku, untuk bisa menangani pesoalan itu, agar tidak muncul lagi di kemudian hari.

Yang jelas menurut Suadi, dibandingkan dengan kedatangan-kedatangannya yang lalu, dia melihat ada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang memang cukup signifikan.

Dan itu, lanjut dia, sangat tergantung kepada bagaimana pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat Maluku untuk mengelola kekayaan lautnya, dan itu yang sedang diupayakan pihaknya.

Sementara itu, Mayjen TNI (Purn) Max Tamaela menilai, acara seperti Halal Bi Halal ini penting bagi orang-orang Maluku di Jakarta.

"Sebab acara-acara seperti ini, penting untuk mempersatukan kami orang-orang Maluku di Jakarta. Karena kami di Jakarta semua ini serba sibuk. Hanya momen ini yang menjadi wadah kami bersilaturahmi," ungkap Max.

Dia menyebutkan, acara sangat bagus seperti ini, baik untuk saling tukar menukar informasi dan saling memberi pemahaman antar Gubernur dan tokoh-tokoh masyarakat Maluku di Jakarta, sebab jarang bertemu dengan Gubernur.

"Dan di sini juga bisa ada masalah-masalah dari Ambon yang mungkin disampaikan Gubernur ke kita, sehingga mungkin kita juga bisa tahu apa sih permasalahan di sana, apa ada kemungkinan kita ikut mencari solusinya atau tidak," ujarnya.

Max katakan, para tokoh dan masyarakat Maluku di Jakarta, juga punya tanggung jawab moral untuk menbantu pemerintah daerah. "Jadi kalau pemerintah daerah bisa dibantu kan lebih bagus," tandasnya.

Sedangkan menyinggung tentang beberapa insiden kecil di Ambon, menurut Max, pihaknya berharap jangan sampai terjadi kembali.

"Ini kan terjadi karena hal yang kecil-kecil saja. Nah kita harapkan supaya aparat pemerintah atau aparat keamanan di Maluku cepat tanggap," ujarnya.

Jadi kalau ada hal-hal kecil, menurut Max, bisa cepat diselesaikan. Tidak melebar ke mana-mana. "Ini paling antara orang dengan orang. Kita harapkan cepat diselesaikan. Tapi kita juga usahakan jangan sampai terjadi," imbuhnya.(*)

AMBON - Gubernur Maluku Said Assagaff berharap para mahasiswa Maluku di Jakarta untuk membentuk wadah organisasi, biar mudah membangun komunikasi.

Harapan tersebut disampaikan Gubernur saat menerima sejumlah mahasiswa Maluku di Jakarta, Sabtu (8/7).

"Tadi saat pertemuan dengan mahasiswa tadi, saya meminta agar mereka punya satu wadah berhimpun," ujar Gubernur usai pertemuan dengan mahasiswa di Hotel The Molvcca, Jakarta.

Menurut Gubernur, nanti pemerintah daerah akan membantu menyiapkan Sekretariat untuk wadah tersebut, supaya kalau ada yang mau bertemu dengan Gubernur bisa melalui ketua, atau melalui sekertarisnya.

"Kalau tidak, saya setiap kali ke Jakarta, ada SMS dari yang mengaku mahasiswa Maluku untuk bertemu. Tapi kadang saya tidak tahu ini mahasiswa yang mana," ungkapnya.

Jadi, jika ada wadah bagi mereka untuk berhimpun, lanjut Gubernur, akan lebih mudah dalam berkomunikasi.

Jika tidak ada wadah, menurut Gubernur, mungkin tiap minggu orang-orang itu saja, yang bertemu dengan dirinya di Jakarta. Padahal mahasiswa Maluku di Jakarta kan banyak, dan dia akan perhatikan mereka semua.

"Saya akan buat sekertariat, dan saya minta kalau organisasi itu sudah dilantik, baiknya ketemu dengan DPRD Maluku. Ke depan kita bangun satu asrama untuk mahasiswa Maluku. Saya ingin tinggalkan jabatan saya itu semua sudah harus selesai," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur juga mengajak para tokoh asal Maluku di tanah rantau untuk menyatukan langkah membangun Maluku.

"Saya juga mengajak tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama asal Maluku di luar daerah termasuk di Maluku, untuk kita sama-sama satukan langkah membangun Maluku yang aman, yang rukun, yang religius, yang sejahtera, dan yang berkualitas," imbaunya.

Kepada warga Maluku di Jakarta, Gubernur juga berharap agar mereka ikut menjaga stabilitas serta membantu Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, untuk bersama-sama membangun bangsa yang besar ini.

"Pada halal bi halal ini, saya juga menghimbau, kejadian-kejadian kemarin ketika Pilkada Jakarta tidak dibawa ke Ambon," ujarnya usai Halal Bi Halal Pemda Provinsi Maluku bersama Masyarakat Maluku di Jakarta, berlangsung di The Molvcca, Jakarta, Sabtu (8/7).

Sedangkan, kepada warga Maluku di Maluku, Gubernur mengimbau, agar membawa contoh baik toleransi, kerukunan dan hidup orang basudara (bersaudara) di Maluku ke Jakarta.

Menurut Gubernur, Maluku bisa jadi contoh yang baik untuk Indonesia. Karena itu terus didorong sebagai laboratorium kerukuran hidup beragama terbaik di Indonesia, bahkan dunia.

"Saya kira nuansa-nuansa seperti begini kita perlu menyatu. Tadi Pak Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA, dalam hikmah halal bi halal, dengan jelas menyatakan Nabi Muhammad SAW saja tidak sombong. Nabi saja memperlakukan semua orang sama. Jadi kita juga jangan memperlakukan orang dari suku, agama maupun ras-nya," papar Gubernur.

Karena itu sebagai sebagai manusia biasa, lanjut Gubernur, mestinya kita bisa meningkatkan toleransi, kerukunan, antarsuku, antarbangsa, antaragama.

"Mudah-mudahan acara seperti halal bi halal ini menjadi tradisi kita. Pemerintah daerah selama ini bersama Masyarakat Maluku yang ada di Jakarta menggelar acara seperti ini sebagai ajang silaturahmi. Nanti saat Natal dan Tahun Baru, kita bikin hal yang sama juga," tandasnya.(*)

AMBON - Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar, memuji Hidup Orang Basudara, termasuk kerukunan dan toleransi di Maluku.

Pujian tersebut disampaikan Nasarudin saat memberikan hikmah pada acara Halal Bi Halal Pemda Provinsi Maluku bersama Masyarakat Maluku di Jakarta, berlangsung di The Molvcca, Jakarta, Sabtu (8/7).

Selama memimpin Masjid Istiqlal, Nasarudin mengaku, melakukan beberapa perubahan dan itu juga terinspirasi dari Hidup Orang Basudara di Maluku. Dia memulai hal baru, yaitu memulai toleransi beragama mulai dari lapangan parkir.

"Tetangga kami ada Gereja, ada Katedral sering kesulitan parkir. Sehingga sering memacetkan jalan. Jadi kami buka, lapangan parkir Istiqlal yang begitu luas, bisa menjadi tempat parkir untuk umat beragama mana pun," ujarnya.

Bahkan dia katakan, seandainya tidak dipisahkan jalan raya, bila perlu seluruh pagar Masjid Istiqlal dibongkar agar menyatu dengan pagar gereja di sampingnya.

Dia menyatakan salut, kalau soal toleransi dan kerukunan, laboratoriumnya memang Maluku. "Maluku dan Sumatera Utara adalah daerah percontohan untuk toleransi. Bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk dunia," tandasnya.

Dunia disebut Nasarudin, harus mencontoh dan belajar realitas masyarakat Maluku dan masyarakat Sumatera Utara.

Sementara itu, Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan, kita di Maluku walau pun berbeda-beda, tetapi tetap satu sebagai orang basudara.

"Katong samua bersaudara, bukan hanya karena punya hubungan darah (geneologis), tetapi juga katong bersaudara karena lahir dan dibesarkan oleh rahim atau kandungan bumi raja-raja Maluku," tandasnya.

Dia menyebutkan, kita makan dan minum dari rahim Maluku dan kita juga berdiri tegak serta berkembang biak di atas perut Ibu Maluku.

"Sehingga tidak ada alasan untuk kita bercerai, apalagi saling menyakiti. Untuk itu jangan pernah putus silaturahmi atau tali gandong. Mari sama-sama katong baku kele maju, dalam semangat hiti-hiti hala-hala," imbuhnya.

Menurut Gubernur, Maluku bisa jadi contoh yang baik untuk Indonesia. Karena itu terus didorong sebagai laboratorium kerukuran hidup beragama terbaik di Indonesia, bahkan dunia.

"Saya kira nuansa-nuansa seperti begini kita perlu menyatu. Tadi Pak Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar, dalam hikmah halal bi halal, dengan jelas menyatakan Nabi Muhammad SAW saja tidak sombong. Nabi saja memperlakukan semua orang sama. Jadi kita juga jangan memperlakukan orang dari suku, agama maupun ras," papar Gubernur.

Sebagai sebagai manusia biasa, lanjut Gubernur, mestinya kita bisa meningkatkan toleransi, kerukunan, antarsuku, antarbangsa, antaragama.

"Mudah-mudahan dengan halal bi halal sebagai tradisi kita, pemerintah daerah selama ini bersama Masyrakat Maluku yang ada di Jakarta, juga nanti ketika kita Natal, Tahun Baru kita bikin hal yang sama juga untuk tetap menjaga silaturahmi," harapnya.

Acara Halal Bi Halal yang dihadiri ratusan warga maluku di Jakarta ini, ikut hadir sejumlah tokoh asal Maluku antara lain Mayjen TNI (Purn) Max Tamaela, Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Samuel Samson, Mantan Wagub Suranto, Ketua DPRD Maluku Edwin Adrian Huwae, para Wakil Ketua DPRD Maluku Elviana Pattiasina dan Said Mudzakir Assagaff, dan Bupati Seram Bagian Barat (SBB) M. Yasin Payapo.(*)

AMBON - Realisasi Anggaran Pendapatan Daerah Maluku tahun 2016, sampai akhir tahun tersebut, mencapai 92,71 persen atau sebesar Rp.2,547 triliun, dari target sebesar Rp.2,744 triliun atau 92,81 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Maluku Said Assagaff, pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Maluku, terkait penyampaian Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Maluku, tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2016, di gedung dewan, kawasan Karang Panjang Ambon, Rabu (5/7).

"Anggaran yang terealisasi itu, antara lain bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp.466,208 miliar, Dana Perimbangan sebesar Rp.2,041 triliun, Transfer Pemerintah Pusat lainnya Rp.39,148 miliar dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp.238,80 juta," papar Gubernur, pada rapat ang dipimpin Ketua DPRD Edwin Adrian Huwae ini.

Sementara pada sisi Anggaran Belanja Daerah, menurut Gubernur, ditetapkan sebesar Rp.2,798 triliun, dan terealisasi sebesar Rp.2,573 triliun atau sebesar Rp.91,96 persen.

Jumlah tersebut, disebutnya, terdiri atas Belanja Operasi sebesar Rp.1.652 triliun, Belanja Modal sebesar Rp.753,758 miliar rupiah, Belanja Tak Terduga sebesar Rp.2,127 miliar dan Belanja Transfer sebesar Rp.165,079 miliar.

Sedangkan dari sisi Pembiayaan Darah bersumber dari Penerimaan Pembiayaan, ditetapkan anggaran sebesar Rp.86.709 miliar, menurut Gubernur, terealisasi sebesar Rp.58,893 miliar atau 67,92 persen.

Lebih lanjut, kata Gubernur, pada komponen Pengeluaran Pembiayaan, ditetapkan anggaran sebesar Rp.32,735 miliar, dan terealisasi sebesar Rp.3,850 miliar atau 11,76 persen.

"Bila dilakukan marching (dihadapkan) antara realisasi Pembiayaan Penerimaan dengan Pengeluaran Pembiayaan, maka diperoleh Pembiayaan Netto sebesar Rp.55,042 miliar rupiah," ujarnya

Kaitan dengan itu, menurut Gubernur, maka secara keseluruhan realisasi Pendapatan Daerah sebesar Rp.2,547 triliun, bila diperhadapkan dengan realisasi Belanja Daerah pada Tahun Anggaran 2016 sebesar Rp.2.408 triliun dan transfer sebesar Rp.166,079 miliar, terdapat Defisit sebesar Rp.26,276 miliar.

"Sehingga Sisa lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran 2016, sebesar Rp.28,766 miliar," ungkapnya.

Pertanggungjawaban APBD yang disampaikannya ini, menurut Gubernur, merupakan hasil dari upaya bersama, lewat pelaksanaan program kegiatan prioritas Tahun Anggaran 2016, yang merupakan wujud nyata dari penyelenggaraan urusan pemerintahan, untuk mendukung tercapainya prioritas pembangunan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam RKPD tahun 2016.

Dia katakan, pada RKPD tahun 2016, tema pembangunan yang diintrodusir adalah Memantapkan Perekonomian Daerah yang Kuat Guna Perluasan dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Dijiwai Kearifan Lokal Berbasis Kepulauan.

"Hal ini akan memberi arahan pada orientasi kita, untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang religius dan mewujudkan masyarakat Maluku yang berkualitas, dengan kesadaran strategis kita sebagai daerah kepulauan," tandasnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Provinsi Maluku Edwin Adrian Huwae menyatakan, pihaknya akan menggunakan laporan pertanggungjawaban Gubernur itu, untuk mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan APBD Provinsi Maluku selama satu tahun anggaran, berdasarkan indikator-indikartor pencapaian kinerja.

Catatan penting yang harus diperhartikan secara bersama, menurut Huwae, bahwa DPRD senantiasa berupaya secara objektif melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan APBD setiap tahun anggaran.

"Evaluasi yang dilakukan tersebut, semata-mata agar pelaksanaan APBD benar-benar mampu menyelesaikan berbagai pesoalan kemasyarakatan yang ada, serta memberikan perubahan signifikan bagi kemajuan masyarakat," ujarnya.(*)

Wednesday, 05 July 2017 17:06

Hidup Orang Basudara di Maluku

Mari Gandong, Mari Sombayang di Rumah Tuhan

GERIMIS yang semula membuat sejumlah wajah nampak cemas, perlahan mulai berlalu. Awan hitam yang menggantung di atas negeri itu, juga sudah menghilang.

Sejurus kemudian, langit mulai membiru. Cerah. Secerah wajah warga tiga negeri yang sejak beberapa hari ini tumpah di negeri gandong mereka, Kariu.

Negeri kecil yang ada di Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah ini, lagi ada hajatan, pada hari Minggu (2/7) kemarin. Ikut berpartisipasi pada hajatan ini, negeri yang punya ikatan kekerabatan "gandong" (kandungan) Kariu, yaitu Negeri Booi di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Negeri Aboru di Kecamatan Pulau Haruku, Malteng dan Negeri Hualoy yang mayoritas warganya Muslim di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Memasuki Kariu, ada sejumlah baliho besar bertuliskan ucapan selamat untuk "Pentahbisan dan Peresmian Gedung Gereja Ebenhaezer, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Kariu", dipasang pada beberapa sudut negeri.

Kemeriahan semakin terasa, ketika Gubernur Maluku Said Assagaff, Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua, sejumlah anggota DPRD Provinsi Maluku, dan rombongan merapat dengan speed boat di labuang negeri. Jembatan dan bibir pantai di labuan negeri, yang tadinya sepi, sontak ramai dengan warga.

Usai menikmati lagu "Selamat Datang di Negeri Kami", persembahan puluhan anak SD Kariu, rombongan yang diiringi grup musik suling bambu ini, lantas disambut tari lenso, sebelum akhirnya menempati area VIP. Acara puncak pun dimulai.

Lonceng pertama di gereja baru dibunyikan sebagai pertanda dimulainya prosesi. Bersamaan dengan itu, Majelis Jemaat bersama anggota jemaat melangkah dari dalam gedung gereja lama, menuju gedung gereja baru.

Nampak terlihat pada iring-iringan tersebut, Ketua Majelis Jemaat membawa Alkitab ukuran besar, dalam keadaan terbuka. Sedangkan Majelis Jemaat membawa alat-alat Perjamuan Kudus. Mereka berhenti persis di depan gerbang gereja baru.

Sementara di pelataran gereja, sejumlah perempuan berjilbab, membentang "kain gandong". Kain berwarnah putih sebagai simbol pemersatu tanpa membedakan suku dan agama itu, dibentangkan di sisi kiri dan kanan pintu masuk gereja.

Suasana yang tadinya ramai, penuh suara obrolan sana sini, tiba-tiba hening. Sebuah suara menyapa hadirin, lantas mengumandangkan Kapata.

"Basudara tuang hati jantong. Trap-trap jalan ini, katong anak-anak negeri Hualoy Sama Ohy Ririnita pung tampa tangan par gandong Kariu Leamoni Kamasune.

Tampa tangan ini adalah tampa tangan orang gandong bajalang maso di gareja par somba Isa Almasih.

Ingatang bae-bae, ini jalan orang-orang kudus, deng ini jalan orang gandong. Mari gandong, mari maso sombayang di rumah Tuhan ini".

Suara itu ternyata milik pemangku adat Negeri Hualoy, yang dengan lantang menyampaikan harapan mereka bagi negeri dan jemaat Kariuw yang membuat suasana semakin hening.

Keheningan semakin terasa, ketika suara penuh wibawa dari Wakil Imam Masjid Hualoy R. Hehanussa menyampaikan "Pasawari" dengan menggunakan "bahasa tana" sambil mengundang prosesi pelayan GPM dan warga Jemaat GPM Kariu untuk memasuki pelataran gereja, membuat sebagian besar basudara gandong jadi merinding.

Sejumlah warga persekutuan Booi, Aboru, Kariu, Hualoy yang berada persis di anak tangga dan air depan gerbang gereja, nampak menyeka air mata. Ada yang terlihat nyaris "trance" mendengar "pasawari" tersebut.

Sahabat saya, jurnalis Harian Kompas, Frans Pati Herin yang berdiri bersebelahan, mengaku selama melakukan tugas jurnalistik, baru pada peristiwa ini dia merasa bulu kuduknya merinding. Matanya ikut berkaca-kaca melihat keharuan yang menyeruak pasca "Pasawari" disampaikan. "Ah, tadi saya lupa bawa kaca mata hitam, buat menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca," ujar lelaki asal Nusa Tenggara Timur ini, berbisik.

Saya sendiri juga ikut terbawa suasana. Seperti halnya Frans, mata saya juga berkaca-kaca. Untung masih bisa saya sembunyikan di balik kamera, yang sengaja berada dalam posisi siap menjepret.

Sebelum semua yang hadir, larut dalam suasana yang terkesan sakral itu, Gubernur, Bupati Malteng beserta Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pdt. A.J.S. Werinussa dipersilahkan menandatangani Prasasti Pentahbisan dan Peresmian Gereja.

Usai penandatangan prasasti, para pemangku adat, pemuka agama dan raja dari Ikatan Persekutuan BAKH serta dari negeri lainnya di Pulau Haruku membaca "Kapata Orang Basudara" (Janji Persaudaraan) secara bersamaan.

"Di atas tanah Lemoni Kamasune, di pelataran Gedung Gereja ini, katong Kapata par samua orang dengar:

Beta Kariu, Beta Booi, Beta Aboru, Beta Hualoy, Beta Pelauw dan Ory, Beta Kailolo, Beta Kabauw, Beta Rohomoni, Beta Haruku, Beta Sameth, Beta Oma, Beta Wassu, Beta Hulaliu.

Katong samua Orang Basudara. Mari Jaga Negeri, Mari Jaga Gereja, Mari Jaga Masjid, Mari Bakukeku Jang Bakukuku, Mari Bakubae Jang Bakalae. Ingatang katong pung kapata: "Jaga Hidop Orang Basudara".

Usai pembacaan Kapata dan penandatanganan naskahnya, Gubernur, Bupati Malteng, Ketua Sinode GPM dan rombongan serta seluruh Orang Basudara yang ada, lantas masuk ke dalam Gereja Ebenhaezer untuk mengikuti prosesi selanjutnya.

Kepada saya, aktivis Peace Provocateur (Provokasi Perdamaian) dan juga pekerja kemanusiaan, Jack Manuputty yang ikut merekam prosesi pentahbisan dan peresmian gereja ini, mengaku sangat bangga dengan pesan damai dari sebuah kampung kecil di Kepulauan Maluku ini.

"Acara peresmian dan pentahbisan Gedung Gereja Ebenhaezer, Jemaat GPM Kariu ini, berlangsung dalam suasana lintas iman yang kental. Ini bukan bentuk pembauran agama, melainkan ekspresi hidup persaudaraan yang telah terikat sejak leluhur," tutur Jacky yang juga Direktur Lembaga Antar Iman Maluku ini.

Jacky katakan, Negeri Hualoy yang beragama Islam memiliki relasi "gandong" (kandungan) dengan tiga negeri lain yang beragama Kristen, yaitu Negeri Kariu, Negeri Aboru, dan negeri Booy.

"Dalam tradisi ini, setiap susah dan senang harus dipikul bersama. Dalam tradisi ini, konflik bisa saja terjadi, tetapi tanpa upaya perdamaian mereka percaya bahwa laknat akan menimpa dan negeri akan susah. Dalam tradisi luhur ini, setiap perbedaan, termasuk agama, diterima sebagai kekayaan bersama yang harus dihormati dan dijunjung tinggi," paparnya.

Dalam pemahaman di atas, menurut Jacky, peresmian/pentahbisan Gedung Gereja Baru Jemaat GPM Kariu dirayakan bukan semata-mata sebagai suatu akta gerejawi, tetapi juga peristiwa adat dan budaya dalam bingkai "Orang Basudara."

Di dalamnya terlibat Negeri Aboru, yang membuat meja-meja perjamuan gereja, Negeri Booy yang membuat mimbar gereja Kariuw, dan Negeri Hualoy yang membuat pelataran termasuk anak tangga dan jalan masuknya.

Nuansa Orang Basudara itu kian terasa, lantaran pada proses pembangunan gedung gereja ini, negeri-negeri Muslim yang bertetangga dengan Negeri Kariu, seperti Negeri Pelauw dan Ory, secara spontan turut terlibat mengulurkan tangan dan membantu pekerjaan pembangunannya.

Perasaan bangga juga disampaikan Gubernur Assagaff. Dia mengaku sangat bangga mendengar kisah pembangunan gedung gereja tersebut, yang disebutnya mengabadikan spiritualitas ikatan pela gandong, dan kekuatan simbolik yang luhur dan utuh.

Assagaff menegaskan, orang di Maluku sudah melewati apa yang disebut perbedaan. Sebab pela dan gandong menunjukkan bahwa, bagi orang di Maluku, perbedaan itu bukan hal yang harus dipertentangkan, melainkan suatu berkat yang patut disyukuri.

Sebab di sanalah, kata Assagaff, perdamaian itu disemaikan dan kemudian bertumbuh serta berbuah. Pela gandong, sesungguhnya telah menjadikan Maluku sebagai Laboratorium Perdamaian bagi dunia.

-SUMBER : Facebook Humas Pemprov Maluku @KabarDariMaluku

AMBON - Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak masyarakat di daerah ini, untuk lebih arif lagi menggunakan media sosial (medsos).

Ajakan tersebut disampaikannya pada acara Halal Bi Halal Pemda Provinsi Maluku, PHBI Provinsi Maluku bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga di daerah ini, berlangsung di Islamic Center Ambon, Selasa (4/7).

"Satu hal penting yang perlu katong Nanaku akang bersama-sama, yaitu pentingnya katong cerdas dalam menggunakan internet, khususnya media sosial," ujar Gubernur.

Menurut Gubernur, melalui medsos kita bisa membangun dan menyambung silaturrahim, tetapi dengan medsos juga katong bisa merusak hubungan silaturrahim.

Dia juga katakan, dengan internet kita bisa belajar dan mengakses pelbagai informasi serta sumber ilmu pengetahuan dengan sangat mudah.

"Tapi dengan internet juga bisa membuat katong menjadi makhluk yang sangat instant, individualistik, mekanistik dan sangat suka dengan cara-cara plagiasi, baik dalam aktivitas di dunia pendidikan, birokrasi atau perkantoran, di parlemen, hingga masuk ke ruang-ruang privat di rumah tangga. Intinya dewasa ini bangsa kita nyaris kehilangan orginalitas," paparnya.

Masalah berikutnya yang perlu menjadi ikhtiar kita bersama, menurut Gubernur, yaitu belajar agama secara instant. Atau apa yang disebut oleh imam besar mesjid Istiqlal Jakarta, Prof. Nazaruddin Umar sebagai “Agama Internet atau Agama Medsos”, yaitu ada “Islam internet atau Islam medsos”, “Kristen Internet atau Kristen medsos”, dan seterusnya.

"Yaitu orang belajar secara instant tanpa mau belajar melalui ustaz, tuang guru (ulama), pendeta atau pastor," ujarnya.

Dampak negatif belajar agama tanpa guru, disebut Gubernur, terutama bagi yang awam, antara lain, biasanya salah kaprah atau salah jalan (fenomena munculnya aliran sesat), terkadang merasa sudah paleng pintar, menganggap paling benar sendiri, serta dalam banyak kasus rawan untuk terjadinya proses “cuci otak” direkrut menjadi terori.

Gubernur katakan, ini karena kita kurang siap, dalam menghadapi lajunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga katong mengalami cultural shock (takajo) atau 'Tunggakan kebudayaan'. Ini jadi tanggung jawab kita samua, khususnya para pendidik, ustaz, tuang guru, ulama, pendeta, pastor, Bikhu dan sebagainya.

"Dalam spirit Halal bi Halal ini, mari basudara samua, sambil bermaaf-maafan, katong bersinergi dan tingkatkan kinerja dan pengabdian untuk negeri ini. Karena sejatinya semakin berkualitas ibadah seseorang, sejatinya makin baik dan berkualitas pula karyanya," imbaunya.

Melalui momentum Halal bi Halal ini juga, Gubernur mengajak kita samua untuk meningkatkan kualitas kerukunan dan kedamaian antar umat beragama, serta antar suku bangsa di daerah ini, dalam rangka kita kembangkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan dan kedamaian antar umat beragama terbaik di Indonesia.

"Bukan hanya kerukunan dan kedamaian pasif, tetapi kerukunan dan kedamaian aktif. Sebagaimana ungkapan luhur orang Maluku, yaitu 'Potong di kuku, rasa di daging, ale rasa Beta rasa, serta Sagu Salempeng di patah dua'," harapnya.

Gubernur katakan, inilah spirit kebersamaan dan persaudaraan sejati untuk belajar saling memahami, saling mempercayai, saling mencintai, saling menopang, saling membanggakan dan saling menghidupi.

Menyinggung tentang Halal Bi Halal, Gubernur menyebutkan, betapa pentingnya ucapan selamat Idul Fitri itu, kita pun membuat serangkaian acara Halal bi Halal, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat nasional.

"Serta yang terlibat di dalamnya, bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat beragama lain, baik sebagai peserta maupun panitia, sebagaimana yang sering kita lakukan di Maluku," ungkapnya.

Untuk itu, tradisi buka puasa berasama dan Halal bi Halal ini, disebut Gubernur, sebagai local genius (kecerdasan local) dan local wisdom (kearifan local) Islam di Indonesia.

Kecerdasan lokal atau kearifan local seperti ini, lanjut Gubernur, lahir dari imajinasi para ulama dan umara di negara ini agar kita tetap menjaga dan menjalin silaturrahim sesama anak bangsa.

Bahwasanya walaupun bangsa ini adalah bangsa yang multikultur atau plural, namun menurut Gubernur, kita tetap satu, sebagaimana semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, Biar Berbeda-beda, Tetapi Tetap Satu dan bersaudara.

Demikian halnya kita di Maluku, demikian Gubernur, walaupun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu sebagai orang basudara. Katong samua bersaudara, bukan hanya karena punya hubungan darah (geneologis), tetapi juga katong bersaudara karena lahir dan dibesarkan oleh rahim atau kandungan bumi raja-raja ini.

"Kita makan dan minum dari rahim Maluku dan kita juga berdiri tegak serta berkembang biak di atas perut Ibu Maluku. Sehingga, tidak ada alasan untuk kita bercerai, apalagi, saling menyakiti. Untuk itu jangan pernah putus silaturrahim atau tali gandong. Mari sama-sama katong baku kele maju, dalam semangat hiti-hiti, hala-hala," imbaunya.

Lalu apa makna Orang Basudara? Gubernur menyebutkan, Nabi Muhammmad Saw bersabda: tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sebelum dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri”.
Pada hadis lain Nabi Muhammad Saw, juga menegaskan: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim”.

Dalam spirit ini, Gubernur berharap, ibadah puasa yang telah selesai dilaksanakan itu, benar-benar merupakan panggilan iman yang sejati, dapat kita jadikan sebagai media untuk ber-muhasabah dan berefleksi, sehingga terhapus semua dosa-dosa pada masa yang lampau serta hadir sebagai manusia baru yang fitri, yang melimpah dengan kebaikan dan kebijaksanaan.

Orang yang dapat menangkap hakekat puasa, diyakini Gubernur, dia akan selalu belajar untuk menjadi sumber kasih sayang, sumber kedamaian, sumber kesejahteraan, sumber keadilan, sumber kabaikan, untuk sesama.

Karena itu, dia mengajak semua yang hadir, untuk mengimplementasikan nilai-nilai puasa yang telah dilalui itu untuk mengedukasi dan menempa nafsu dan jiwa kita.

"Sebab jiwa yang kotor akan jauh dari Allah SWT, serta jiwa yang dikuasai oleh nafsu ammarah, akan menjadi sumber dari pelbagai kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini," tegas Gubernur.(*)

-Foto:Humas Pemprov Maluku

AMBON - Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, Senin (3/7), melepas kontingen Utsawa Dharma Gita Provinsi Maluku, ke event Tingkat Nasional ke-XIII tahun 2017 di Palembang.

Kegiatan Utsawa Dharma Gita atau Lomba Pembacaan Kitab Suci Agama Hindu, seperti halnya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), maupun Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani), merupakan ajang dimana umat diajak memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya, melalui senandung bait-bait suci yang merdu dan syahdu.

Sementara Dharma Gita merupakan salah satu dari enam metode pembinaan umat Hindu, yang dikenal dengan Sad Dharma, yang terdiri dari Dharma Gula, Dharma Wacana, Dharma Gita, Dharma Yatra, Dharma Sadhana dan Dharma Santi.

Dalam sambutan tertulisnya dibacakan Wagub Sahuburua, Gubernur Maluku Said Assagaff menyampaikan pujian dan apresiasi yang tinggi kepada Lembaga Pengembangan Dharma Gita Provinsi Maluku.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada lembaga ini, yang sudah mengikutsertakan kidung daerah keagamaan bernuansa Hindu, yang diwakili oleh putra putri asli dari Kabupaten Maluku Tenggara, Buru dan Buru Selatan, Seram Bagian Timur dan Kota Ambon," ujarnya.

Menurut Gubernur, nilai-nilai agama Hindu yang tersimpan dalam kitab-kitab susastra agama Hindu, yang perlu digali dan diaktualisasikan melalui seni keagamaan, agar memudahkan pemahaman dan penghayatannya. seni yang dimaksud di sini adalah Dharma Gita.

Dharma Gita sebagai nyanyian suci keagamaan Hindu, disebut Gubernur, memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu, yang bersumber dari ajaran suci Weda.

"Ajaran suci yang mengandung nilai-nilai spiritual, etika dan estetika yang sangat tinggi, sehingga memberi tuntunan pemahaman ajaran agama Hindu, yang dimulai dari aspek Tattwa atau akan idah, Susila atau tingkah laku, maupun Ritual atau upacara," imbuhnya.

Nyanyian suci keagamaan dengan irama lagu yang melankolis, disebut Gubernur, sangat membantu menciptakan suasana hening, khidmat dan suci. Bait-bait mantra suci Weda, yang dirangkai dalam bentuk puisi menjadi Dharma Gita, terasa lebih indah untuk dinikmati.

"Keberadaan Dharma Gita di kalangan umat Hindu di Nusantara, memiliki keragaman dalam bahasa, irama lagu, maupun cara melantunkannya," tutur Gubernur.

Hal ini dikatakan Gubernur, telah mengantarkan umat Hindu pada kekayaan budaya di bidang seni, yang tidak terbatas dalam membangkitkan rasa keagamaan sesuai budaya daerah masing-masing, maupun dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengharapkan, melalui Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional ke-XIII, yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali ini, akan menjadi ajang pembuktian kemampuan olah seni suara dan pemahaman ajaran agama Hindu kepada para peserta atau utusan dari Provinsi Maluku.

Dia juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mendukung, serta turut mendoakan kontingen Utsawa Dharma Gita Provinsi Maluku, agar mereka mampu tampil maksimal memberikan yang terbaik, untuk memuliakan Tuhan, dan menjadi kebanggaan daerah Maluku tercinta.

"Kalau beberapa event keagamaan berskala nasional telah dilaksanakan di Provinsi Maluku, seperti MTQ Nasional dan Pesparawi Nasional. Maka Pemerintah Provinsi Maluku dan masyarakat di daerah ini, akan sangat berbangga, jika event Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional, dapat juga diselenggarakan di daerah ini," harap Gubernur.

Ini semua menurut Gubernur, merupakan bagian dari upaya menjadikan Maluku sebagai laboratorium kerukunan umat beragama terbaik di Indonesia bahkan di dunia.

Dengan harapan, lanjut Gubernur, kelak setiap orang atau daerah atau juga bangsa lain, jika ingin belajar tentang bagaimana membangun kerukunan yang baik dan harmonis, mereka akan datang ke Maluku untuk belajar.

"Ini merupakan harapan kita bersama, untuk membangun masyarakat Maluku yang memiliki akhlak, budi pekerti dan moral yang berkualitas, melalui pengamalan ajaran agamanya masing-masing, dan akan berdampak secara signifikan bagi kepentingan pembangunan daerah ini di segala sektor, karena keunggulan dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki," demikian Gubernur.(*)

-Foto: Humas Pemprov Maluku

AMBON - Negeri (Desa) Mamala dan Negeri Morella di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, kembali dipadati warga dari kedua desa, maupun warga dari kawasan lainnya di Pulau Ambon, pada Minggu (2/7), untuk menyaksikan acara adat Pukul Manyapu.

Usai membuka acara adat warisan budaya para leluhur dengan nuansa keagamaan yang kental ini, di Negeri Mamala, Gubernur Maluku Said Assagaff meminta semua masyarakat di daerah ini, untuk ikut mempromosikannya.

"Dalam kondisi gencarnya arus modernisasi, namun adat atau tradisi Pukul Manyapu kebanggaan kita ini tetap dipelihara dengan baik. Teman-teman wartawan mestinya bisa ikut membantu lebih mempromosikannya, agar menjadi tujuan tetap kunjungan turis," imbau Gubernur.

Selain lewat media mainstream (arus utama) yang ada, Gubernur juga mengajak para wartawan serta pemerhati pariwisata dan budaya di daerah ini, ikut mempromosikan event yang digelar setiap tujuh hari setelah Lebaran Idul Fitri tersebut, juga melalui media sosial.

"Kalian bantu daerah ini lah. Biar banyak yang datang berwisata ke sini. Apalagi adat Pukul Manyapu ini unik, dan tidak ada di daerah lain," pinta Gubernur kepada awak media yang meliput acara tersebut.

Sebelumnya, saat membuka acara yang berlangsung di pelataran Masjid Al-Muhibbin, Gubernur juga meminta, para jurnalis atau wartawan media cetak dan elektronik, untuk memberitakan kepada dunia, bahwa Maluku, khususnya Negeri Mamala dan Negeri Morella saat ini bukan lagi daerah konflik.

"Negeri-negeri ini, telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman. Tempat bersemayam nilai-nilai Kasih sayang Hidop Orang Basudara," ujarnya.

Karena itu, bantuan untuk promosi event ini secara nasional maupun internasional, dinilainya sangat penting. Sebab dampaknya tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah, namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Negeri Mamala dan Morella.

Adat Pukul Manyapu sendiri, menurut Gubernur, merupakan perwujudan dan pertanda bahwa agama dan adat tetap dihormati dan dihargai.

"Agama dan adat memiliki nilai-nilai yang luhur dan universal, sambil tetap melakukan transformasi yang tepat. Seperti ada ungkapan 'Adat Bersendikan Syara. Syara Bersendikan Kitabullah," ungkap Gubernur.

Maluku sebagai negeri Al-Mulukh atau negeri raja-raja, disebut Gubernur menyimpan kekayaan adat budaya yang melimpah.

Adat dan budaya itu, menurutnya, patut dirawat dan dilestarikan sebagai pusaka hidup dari generasi ke generasi. Negeri Mamala dan negeri-negeri di Jazirah Leihitu, memiliki tradisi dan adat yang patut diapresiasi oleh kita semua.

Gubernur menilai, bertahannya tradisi adat Pukul Manyapu di tengah gempuran arus modernisasi, pertanda Pemerintah Negeri Mamala maupun Negeri Morella dan masyarakat adat yang ada, memiliki ketahanan dan kekompakan dalam menjaga serta merawat praktek-praktek adat tersebut.

"Karena itu, saya minta kepada Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, untuk memperhatikan eksistensi acara ini dengan serius. Termasuk memberikan dukungan berbagai hal yang diperlukan, agar acara ini tetap berjalan dengan baik," tandas Gubernur.

Bahkan jika ada kebutuhan yang berkaitan dengan acara ini, Gubernur harap agar segera direspon dengan cepat oleh Dinas Pariwisata Provinsi Maluku.

"Kenapa saya katakan demikian? Sebab Pemerintah Provinsi Maluku terus berupaya menjadikan industri pariwisata, sebagai salah satu sektor andalan. Dan wisata adat budaya merupakan salah satu produk yang unik di Maluku," ungkap Gubernur.

Menurutnya, berbagai potensi wisata yang ada di Maluku, akan terus dikembangkan, sehingga Maluku menjadi destinasi wisata yang diidam-idamkan oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.(*)

AMBON - Gubernur Maluku Said Assagaff mengaku sangat bangga mendengar kisah pembangunan Gedung Gereja Ebenhaezer, di Negeri (Desa) Kariu, Pulau Haruku, yang disebutnya mengabadikan spiritualitas ikatan pela gandong, dan kekuatan simbolik yang luhur dan utuh.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur saat meresmikan Gedung Gereja Ebenhaezer, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Kariu, di Negeri Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Minggu (2/7).

"Saya bangga, sebab ternyata, tangga naik ke Gereja Ebenhaezer Kariu ini adalah 'tampa tangan' (buah kerja) basudara Salam (Muslim) dari negeri gandong mereka, Hualoy," ujarnya.

Begitu pula, lanjut Gubernur, Meja Perjamuan Kudus yang adalah "tampa tangan" basudara gandong dari Negeri Aboru. Dan Mimbar Pemberitaan gereja, adalah "tampa tangan" basudara Booi.

"Semua 'tampa tangan' itu, telah memberi kekuatan moral dan religi bagi warga Kariu, bahwa 'Tangga Hualoy' dimaknakan sebagai titian langkah menuju ibadah gereja. Ini menjadi simbolisasi penghormatan dan dukungan Basudara Salam Hualoy, terhadap pembentukan teologi ibadah Basudara Sarane Kariu," tandasnya.

Adapun "tampa tangan" Meja Perjamuan, lanjut Gubernur, bisa diartikan sebagai lukisan sempurna, dari bagaimana gereja dipanggil untuk duduk bersama menikmati berkat-berkat jasmani maupun rohani sambil membangunan persaudaraan dalam kerukunan.

"Sedangkan Mimbar Pemberitaan, sebagai pusat ibadah Protestan. Itu memastikan bahwa injil di gereja adalah berita tentang persaudaraan, hidop gandong, berita damai, dan berita tentang keharmonisan. Tidak ada sepenggal kata benci yang diberitakan di sini," paparnya.

Negeri Kariu, memang punya ikatan gandong, atau ikatan yang menggambarkan nilai hakiki persaudaraan, persahabatan dan keterikatan dengan Negeri Booi di Kecamatan Saparua (Malteng), Negeri Aboru di Kecamatan Pulau Haruku (Malteng), dan Negeri Hualoy, di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Persaudaraan gandong antara Negeri Booi, Negeri Aboru, Negeri Kariu dan Negeri Hualuloi yang dikenal dengan akronim BAKH ini, dinilai Gubernur, adalah manifestasi dari perdamaian orang basudara yang sejati.

"Saya bersyukur sebab hari ini, saya bersama semua anak negeri Kariu, dan semua anak di Pulau Haruku, menjadi saksi eratnya kekerabatan orang basudara yang sejati ini," imbuhnya.

Menurut Gubernur, bagi orang Maluku, gandong dan juga pela adalah bentuk final dari ikatan hidup, dan saling mengakui satu sama lain.

"Itu artinya, kita sudah melewati apa yang disebut perbedaan. Sebab pela dan gandong menunjukkan bahwa, bagi kita, perbedaan itu bukan hal yang harus dipertentangkan, melainkan suatu berkat yang patut disyukuri," ujar Gubernur.

Sebab di sanalah, kata Gubernur, perdamaian itu disemaikan dan kemudian bertumbuh serta berbuah. Pela gandong, sesungguhnya telah menjadikan Maluku sebagai Laboratorium Perdamaian bagi dunia.

"Hualoy adalah negeri Salam (Islam) yang sekandung dengan tiga basudara Sarane (Kristen)-nya, yakni Booi, Aboru dan Kariu. Dan sampai saat ini, persekutuan gandong ini turut memperkaya wahana pembelajaran publik, tentang kesadaran masyarakat menjaga bingkai kehidupan damai, tanpa pernah mengorek perbedaan di antara mereka. Apalagi perbedaan agama," ujarnya.

Dia katakan, orang Maluku tidak perlu diajari lagi tentang apa yang mesti dilakukan, sebagai wujud penghargaan atau toleransi.

Sebab sejak dalam kandungan, Gubernur tegaskan, orang Maluku sudah tahu, bagaimana menjaga "hidop basudara gandong", yang adalah Salam dan Sarane. Karena itu telah dibawa sejak dari kandungan, maka "hidop gandong" bagi orang Maluku adalah final.

Cerita bahwa basudara Salam, wajib membantu basudara Sarane dalam membangun negeri atau rumah ibadah, dan sebaliknya, disebut Gubernur, sudah menjadi cerita umum dalam narasi sejarah pela dan gandong di Maluku. Itu pun ditemui di peristiwa yang ada di Kariu.

Bahkan moment pentahbisan dan peresmian Gedung Gereja Ebenhaezer ini, Gubernur katakan, juga menjadi bukti, tidak ada lagi kebencian, dusta dan permusuhan.

"Sebab Basudara Ory dan Pelauw yang Muslim, secara spontan ikut bekerja membangun gereja ini. Mereka adalah saksi, bahwa Pulau Haruku telah bertransformasi menjadi pulau yang damai dan penuh cinta kasih," beber Gubernur.(*)

-Foto: Humas Pemprov Maluku

Page 10 of 32

About

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku

Jl. Dr. Latumeten, Perigi Lima - Ambon

No.Telp/Fax :0911 – 342460

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

           
 

INFO BMKG

Info Cuaca dan gelombang 30 November -1 Desember 2017
 

 

INFO GEMPA



 

 
INF BMKG-BPBD-STAKEHOLDER
Top