Berita Lowongan Kerja Terbaru

Admin

Wednesday, 31 October 2018 09:11

PENGUMUMAN PELAKSANAAN SKD CPNS 2018

 

Berdasarkan Pengumuman Nomor 800-29 tentang Hasil Seleksi Administrasi Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Dilingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2018, bersama ini diumumkan/disampaikan Pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Dilingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Tahun Anggaran 2018 sebagai berikut :

 

Pengumuman Pelaksanaan SKD 2018.pdf

 

 

 

Lampiran Pengumuman Pelaksanaan SKD.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan membuka secara resmi Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I pada Sabtu (27/10) petang dalam sebuah upacara pembukaan yang digelar di Lapangan Merdeka di Kota Ambon, Propinsi Maluku.

Sekitar 12.000 orang termasuk peserta Pesparani dari 34 propinsi, pejabat pemerintah pusat dan daerah serta tamu undangan menghadiri acara yang berlangsung selama hampir lima jam dan berisi berbagai penampilan seni budaya itu.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Sebelumnya, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo selaku ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) memimpin Misa Konselebrasi bersama tujuh uskup dan 90 imam.

Mewakili Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang berhalangan hadir, Jonan menekankan pentingnya menjaga kebhinnekaan karena “kebhinnekaan dibentuk sejak jaman para bapak pendiri bangsa dari Sabang sampai Merauke dan dari Mianggas sampai Pulau Rote.”

“Persatuan, kerukunan dan persaudaraan yang harus kita pertahankan akan membawa negara Indonesia menjadi negara yang sangat besar dan sangat dihormati di dunia. Tanpa persatuan, kerukunan dan persaudaraan, membangun Indonesia akan tidak mudah lagi,” katanya.

Pada 1999, kerusuhan sektarian antara umat Islam dan Kristen mengoyak Propinsi Maluku yang berpenduduk lebih dari 1,8 juta orang. Kerusuhan ini menewaskan sekitar 5.000 orang. Pada 2011, sebuah kericuhan menewaskan sedikitnya lima orang.

Dalam sebuah pesan video berdurasi sekitar 18 detik yang ditayangkan dalam acara itu, Presiden Jokowi menyambut baik penyelenggaraan Pesparani Katolik Nasional I.

“Saya berharap ajang pesta lagu-lagu rohani ini dapat menjadikan umat Katolik lebih mampu memuliakan Tuhan dan lebih mampu menyatukan bangsa Indonesia dalam persaudaraan sejati,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua – yang juga ketua umum panitia Pesparani Katolik Nasional I yang akan berlangsung hingga Kamis (2/11) dengan tema “Membangun Persaudaraan Sejati” – mengatakan keberagaman agama “harus dikelola dengan sebuah pendekatan yang tepat.”

“Itulah sebabnya komitmen kami menjadikan Pesparani Katolik sebagai instrumen untuk kembali membuktikan kemampuan dan kematangan kita dalam menata salah satu aspek kemajemukan itu sendiri, yaitu agama-agama,” katanya.

Ia juga menyarankan agar agama-agama yang ada di Indonesia hendaknya menjadi kontrol sosial yang efektif dalam menjaga kerukunan.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, memimpin Misa Konselebrasi yang diadakan menjelang upacara pembukaan secara resmi Pesparani Katolik Nasional I di Lapangan Merdeka di Kota Ambon, Propinsi Maluku, pada Sabtu (27/10) sore. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

 

“Sesungguhnya landasan spiritualitas menuju suksesnya penyelenggaran Pesparani ini adalah menghadirkan rasa keadilan dan merawat kebersamaan antarumat beragama di Maluku. Kami sadar umat Katolik juga punya kontribusi yang setara dengan anak negeri Maluku dan juga rakyat Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Mgr Suharyo, Pesparani merupakan “peristiwa kebangsaan.”

“Namanya bukan kejuaraan paduan suara Katolik melainkan Pesta Paduan Suara Gerejani. Kita ingin bersyukur kepada Tuhan atas karya yang agung dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Kita juga ingin merayakan karya agung Tuhan dalam sejarah bangsa kita,” kata prelatus itu.

“Rasa syukur itulah yang di dalam Gereja Katolik diungkapkan di dalam salah satu doa yang paling penting yang kami sebut Prefasi untuk Tanah Air,” lanjutnya.

Doa dalam prefasi itu antara lain berbunyi: “Berkat jasa begitu banyak tokoh pahlawan, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa. Kami bersyukur kepada-Mu atas bahasa yang mempersatukan.”

Mgr Suharyo kemudian menyebut Sumpah Pemuda yang setiap tahun diperingati pada 28 Oktober.

“Atas penyelenggaran Tuhan, saya sengaja tidak menggunakan kata kebetulan, Pesparani diadakan menjelang ulang tahun Sumpah Pemuda, ulang tahun ke-90. Dan kita semua tahu Sumpah Pemuda dijalankan dalam 3 kali sidang. Sabtu malam, 90 tahun lalu, hari ini sidang pertama dilaksanakan di gedung Pemuda Katolik di Batavia. Sekarang tempatnya ada di aula Keuskupan Agung Jakarta,” jelasnya.

Selama penyelenggaraan Pesparani Katolik Nasional I, sebuah seminar nasional bertema “Dengan Menyanyi, Kami Merawat Pencasila dan NKRI, Dari Ambon untuk Indonesia” dan sebuah pameran kerajinan tangan – Maluku Expo – juga diadakan di Kota Ambon sebagai bagian dari kegiatan tersebut.

(sumber : https://indonesia.ucanews.com/2018/10/29/menteri-jonan-buka-pesparani-katolik-nasional-di-ambon/ )

Sedikitnya 200 ibu berkerudung duduk manis menyaksikan Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) I di Lapangan Merdeka Ambon, Maluku, Sabtu/27/10. Pembukaan yang meriah ini dibuka langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dan dihadiri juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Gubernur Maluku Said Assaggaf, Ketua Umum Panitia Zeth Sahuburua, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Ignatius Suharyo dan delapan Uskup, para pejabat TNI-Polri, para gubernur se-Kota Ambon, serta sedikitnya 4.000 umat dan masyarakat yang hadir.

Para ibu Muslimah saat memasuki Lapangan Merdeka Ambon
untuk mengikuti Pembukaan Pesparani I [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

 

“Kami sangat senang dan bangga dengan acara ini. Kami ibu-ibu Muslimah sangat mendukung kegiatan ini. Kami pikir Pesparani adalah kesempatan untuk merangkai kebersamaan antar umat beragama. Ini pesta Katolik tetapi kami merasa bahwa ini juga pesta kami. Kami akan mendukung kegiatan ini sebagaimana kegiatan kami sendiri. Karena Katolik adalah saudara kami,” ungkap Haja Siti seorang ibu Muslim.

Pembukaan Pesparani ini menampilkan ragam kegiatan seperti Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan dirigen Egy Picannusa, juga 90 orang Marching Band SMA Xaverius yang membuka devile para kontingen, 37 Paskibra mengibarkan bendera, Penyerahan Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia diserahkan dari Ketua LP3KN kepada Ketua Umum Panitia Pesparani Tingkat Nasional I Tahun 2018 dengan dipikul sembilan orang Pemuda diiringi Tari Cakalele Bulu Ayam dari Desa Tulehu yang berjumlah 30 orang.

Tarian kolosal saat pembukaan Pesparani I [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

“Kami senang bahwa panitia memberi kesempatan kepada kami untuk tampil dalam acara ini. Kami senang karena ini meski acara Katolik tetapi sungguh luar biasa. Salam dan Sarane bisa duduk bersama, bercerita bersama dan mau terlibat dalam kegiatan ini. Pesparani bagi katong saat ini dipersiapkan dengan sangat bagus,” ungkap Rudi seorang peserta Tari Cakalele Bulu Ayam.

Devile peserta dari Provinsi DKI Jakarta [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

Pembukaan Pesparani ini ditandai dengan pemukulan tifa dan ada juga lagu Ave Maria oleh Soprano Internasional dari Italia Fabriana Rosii dengan penari latar grup ballet. Pada akhir lagu Ave Maria Menteri ESDM, didampingi Menteri Agama, Ketua KWI, Gubernur Maluku, Ketua LP3KN dan Ketua Umum Panitia  menaiki perahu menuju panggung untuk pemukulan tifa. Serentak dengan itu seluruh bunyi Tetabuhan sebagai back sound termasuk Genta/Lonceng Gereja dari multimedia berbarengan dengan permainan Lighting System yang memukau.

Para kontingen saat devile pada pembukaan Pesparani I [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

Dalam pembukaan ini juga robotik replika kepiting berjalan membawa salib menuju replika patung St Fransiskus Xaverius. Sebuah patung berukuran delapan meter bergerak berdiri perlahan sambil diiringi orkestrasi musik dan lampu-lampu yang menawan. “Benar-benar acara ini dipersiapkan dengan matang oleh panitia. Kami bahagia sebagai tuan rumah karena bisa hadir menyaksikan even bersejarah di Kota Ambon ini,” ungkap Jacob Ngobut umat asal Paroki Maria Bintang Laut Benteng, Ambon.

Devile peserta dari Banda Aceh [HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]

Di kesempatan yang sama pementasan Opera Kolosal dengan Judul “ Persaudaraan Sejati” dengan penari sekitar 150 orang. Di akhir acara sambil menuju Hotel Santika Ambon, Menteri Ignatius Jonan dan rombongan berjalan diiringi Lagu Maluku Tanah Pusaka oleh Paduan Suara massal berjumlah 250 orang dengan pengiring Maluku Bamboowind Orchestra.

Devile Peserta dari Provinsi Bali [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

Di bangku tamu undangan sebelah kiri Panggung VIP terlihat para imam se-Keuskupan Agung Jakarta, para suster dari berbagai Tarekat juga hadir. Selain itu ada juga para pendeta Klasis Kota Ambon juga tampak hadir mendukung kegiatan ini. Di sebelah kanan panggung VIP hadir juga para kontingen dari 34 Provinsi yang terlibat dalam Lomba-lomba Pesparani.

 Devile peserta dari Provinsi Sulawesi Utara [HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]

“Kami beryukur kepada Tuhan karena bisa hadir dalam acara ini. Kami senang bisa berkenalan dengan saudara-saudari dari daerah lain. Ini kesempatan bagi kami merajut kebersamaan,” ujar Joppy Laiyan seorang kontingen dari Maluku Utara.

Yusti H. Wuarmanuk (Ambon)

(sumber : http://www.hidupkatolik.com/2018/10/28/28026/salam-sarane-di-kota-ambon-dan-sekitarnya-hadir-dalam-pembukaan-pesparani/ )

Saturday, 27 October 2018 13:47

Delapan Uskup Pimpin Misa Pembukaan Pesparani

Ambon - Misa pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I di Lapangan Merdeka Kota Ambon pada Sabtu (27/10) sore dipimpin langsung delapan uskup dan puluhan imam. Konselebran utama dalam misa ini adalah Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo.

Uskup lain yang menjadi konselebran dalam Misa Pembukaan tersebut adalah Uskup Denpasar yang juga menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr Silvester San, Uskup Agung Makassar Mgr Johanes Liku Ada, Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarto, Uskup Agung Merauke Mgr Niko Adi Saputra, Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang, Uskup Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto, dan Uskup Ambiona Mgr Petrus Canisius Mandagi.

Misa dihadiri ribuan umat katolik yang merupakan peserta lomba Pesparani Katolik 1. Mereka merupakan perwakilan dari 34 provinsi di Indonesia untuk mengikuti berbagai perlombaan selama sepekan di Kota Ambon. Misa dimeriahkan lantunan lagu paduan suara OMK Kota Ambon sebanyak 300 orang.

Dalam khotbahnya, Mgr Suharyo mengingatkan acara Pesparani Katolik 1 bukan hanya perlombaan semata.

"Pesparani bukan sekadar perlombaan apalagi lomba panduan suara saja. Ini adalah ajang merawat persaudaraan," tutur Mgr Suharyo.

Mgr Suharyo mengatakan, melalui Pesparani, umat katolik mengucapkan syukur kepada Tuhan atas karya agungnya sehingga Gereja Katolik terus berkembang dan bertumbuh di Indonesia. Bukan hanya umat Katolik, kata dia, Pesparani juga menjadi momentum masyarakat Indonesia untuk mengucap syukur atas karya Tuhan mempertahankan NKRI yang beraneka ragam.

Diketahui, Pesparani Katolik I diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku selama sepekan, dari 27 Oktober 2018 hingga 2 November 2018. Acara pembukaan dilakukan pada Sabtu (27/10) sore dan dihadiri sekitar 5.000 umat katolik dari seluruh provinsi Indonesia.

Pesparani yang bertemakan "Membangun Persaudaraan Sejati" akan digelar berbagai perlombaan seperti lomba Paduan Suara Dewasa Campuran, Paduan Suara Pria, Paduan Suara Dewasa Wanita, Paduan Suara Anak, Paduan Suara Gregorian Dewasa, Paduan Suara Gregorian Anak-Remaja, Menyanyikan Mazmur Dewasa, Menyanyikan Mazmur Remaja, Menyanyikan Mazmur Anak, Cerdas Cermat Rohani Anak, Cerdas Cermat Rohani Remaja, dan Bertutur Kitab Suci Anak.

Acara diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) dan panitia lokal di Maluku. LP3KN adalah lembaga yang direstui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan difasilitasi oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan Pesparani secara periodik.

(sumber : http://www.beritasatu.com/nasional/518878-delapan-uskup-pimpin-misa-pembukaan-pesparani.html )

 

AMBON - Ribuan orang dari 34 provinsi di Indonesia  memenuhi kompleks Brimob Polda Maluku, Tantuwi hari ini, Jumat (26/10) untuk menyaksikan pembukaan Maluku Expo.

Maluku Expo adalah bagian dari rangkaian acara Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) I yang mengumpulkan sekitar 8.000 umat Katolik se-Indonesia di Kota Ambon.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua. Dia dampingi Kapolda, Kasdam dan para anggota dewan dan perwakilan kepala daerah lainnya.

"Selamat datang di Kota Ambon untuk semua kontingen Pesparani I dan perwakilan dari 34 provinsi yang membangun stan di Maluku Expo ini. Kita bertukar informasi dan budaya melalui expo ini," ujar Zeth dalam sambutannya di pembukaan Maluku Expo.

Wagub berharap dengan adanya Maluku Expo ada juga transaksi ekonomi yang terjalin antara setiap daerah peserta di Indonesia. Dalam hal ini berupa kerja sama investasi yang saling menguntungkan antardaerah.

"Yang terpenting investasi dan ekspor. Kita kerja sama tawarkan kelebihan daerah masing-masing. Siapa tahu pulang bisa MoU," imbuh Zeth.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pembinaan, Pengembangan, Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) Adrianus Meliala yang menjadi penyelenggara Pesparani I mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk semua perwakilan provinsi yang bersedia datang dan mengisi Maluku Expo tersebut.

"Saya tahu effort yang luar biasa dari teman-teman LP3KN seluruh Indonesia yang datang. Tidak hanya sibuk mengurus kontingen yang akan berkompetisi, mereka juga tetap semangat membuka stan di Maluku Expo ini. Terima kasih sekali," kata Adrianus.

Pembukaan Maluku Expo diisi dengan berbagai pagelaran tari dan budaya Ambon. Ditambah dengan pertunjukan musik dan suara merdu dari warga Ambon dan polwan Polda Maluku. Di setiap stan nanti, para pengunjung bisa melihat dan membeli berbagai kerajinan tangan dan kuliner khas setiap provinsi di Indonesia.

Mulai dari tenun, batik, makanan camilan hasil pertanian dan pertunjukan musik khas daerah masing-masing. Maluku Expo ini akan digelar sampai 30 Oktober mendatang. (flo/jpnn)

(sumber : https://www.jpnn.com/news/maluku-expo-persatukan-keragaman-budaya-dari-34-provinsi?page=1 )

Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC menegaskan bahwa Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I yang mulai digelar pada Sabtu (27/10) di Ambon, ibukota Propinsi Maluku, merupakan “altar perdamaian dan kerukunan.”

“Jadi Pesparani ini merupakan sebuah pewartaan betapa penting kerukunan antar-umat beragama. Jangan jadikan agama (sebagai) sumber pertentangan, tetapi agama (sebagai) sumber perdamaian. Dan ini akan dinyatakan oleh Pesparani,” kata prelatus itu kepada jurnalis beberapa jam menjelang pembukaan acara tersebut.

“Kita sekarang – seringkali karena poliitk – muka muram, saling fitnah, saling dusta. Maka Pesparani ini mewartakan kepada masyarakat Indonesia (bahwa) ada satu sisi kehidupan manusia yang penting yakni optimisme dan kegembiraan. Inilah yang ingin dinyatakan oleh Pesparani ini,” lanjutnya.

Mgr Mandagi pun menyarankan masyarakat di Propinsi Maluku pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya agar tidak hanya berfokus pada kepastian kehadiran Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada acara tersebut.

“Tentu senang presiden hadir. Tapi walaupun tidak hadir, marilah bersama-sama dengan Bapak Presiden yang tidak hadir, kita bergembira di sini. Hal Itu yang paling penting,” katanya.

Menurut Mgr Mandagi, masalah sering muncul karena masyarakat tidak saling berjumpa dan kemudian saling memusuhi.

“Padahal agama mengajarkan cinta kasih dan persaudaraan. Dan ini tema dari Pesparani ini. Ini yang terpenting saat ini,” tegasnya.

Lebih dari 7.000 umat Katolik dari 34 propinsi memadati Kota Ambon untuk mengikuti Pesparani Katolik Nasional I bertema “Membangun Persaudaraan Sejati.” Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) ini akan berakhir pada 2 November.

“Jadi meskioun presiden tidak datang dan hadir secara lain, tetapi kegembiraan dan sukacita harus menjadi warna dari Pesparani ini,” tegas Mgr Mandagi.

Senada, Ketua LP3KN Adrianus Meliala menyatakan bahwa Presiden Jokowi berhalangan hadir.

“Namun kami dapat keterangan bahwa Bapak Presiden akan hadir dalam bentuk yang lain. Bapak Presiden akan hadir dalam bentuk digital,” katanya.

Ia juga mengatakan penyelenggara tidak akan berhenti pada program itu saja dan akan bekerja untuk empat tahun ke depan.

“Maka kami akan menjadikan momen ini sebagai momen belajar. Mungkin dari situlah konteks membangun persaudaraan sejati dibangun,” jelasnya.

Sementara itu, Mgr Mandagi berharap semua peserta akan membawa pulang semangat persaudaraan ke daerah mereka masing-masing.

“Mungkin agak sulit juga, pasti tidak gampang juga. Saya selalu punya prinsip bahwa pesta ini juga pewartaan kebenaran. Kebenaran apa? Persaudaraan itu kebenaran utama,” katanya.

Piala Presiden dan Piala Juara Umum

Pemenang Pesparani Katolik Nasional I akan mendapat Piala Presiden berwarna kuning keemasan dan Piala Juara Umum berwarna putih.

George William Timorason, seorang pemuda asal Ambon yang membuat kedua piala itu, mengatakan ia menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu 12 hari.

“Sebetulnya saya tidak menyangka momen ini akan datang kepada saya. Saya datang dari Bandung dan saya seniman otodidak,” katanya.

Untuk Piala Presiden, George mengatakan ia sengaja mengambil bentuk Garuda Pancasila kontemporer.

“Karena kita bicara generasi ke generasi. Generasi dulu sangat letter lux dengan lambang Garuda Pancasila. Generasi sekarang yang penting energinya,” lanjutnya, seraya mengatakan Garuda Pancasila pada Piala Presiden dibuat berlubang untuk menunjukkan Propinsi Maluku sebagai sebuah kepulauan.

Selain salib Yesus, Piala Presiden juga mengambil bentuk malaikat. “Malaikat memetik harpa, pasti dia menyanyi,” jelasnya.

(sumber : https://indonesia.ucanews.com/2018/10/27/mgr-mandagi-pesparani-sebagai-altar-perdamaian-dan-kerukunan/ )

 

Dua buah Piala yang akan diperebutkan di Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik telah tiba di Ambon, Sabtu,27/10. Kehadiran piala ini disambut dengan sukacita oleh panitia lokal. “Saya terharu melihat dua piala yang begitu indah. Saya bangga karena piala ini dibuat oleh seorang anak daerah dari Maluku, ungkap Uskup Manado Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Hadirnya dua piala ini tak lepas dari perjuangan sang pemahat George William Tomarason-seorang pemahat asal Desa Hative, Ambon yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

Geroge sendiri mengatakan menyelesaikan patung ini dalam 12 hari menyelesaikan patung. Ia tak menyangka mendapatkan momen langkah membuat dua patung dari gold dan silver ini. Ia mengatakan ketika ditawarkan untuk membuat patung, ia hanya menepuk jidat karena diberi waktu yang sangat singkat. Panitia menghubunginya di saat waktu sangat singkat. “Tetapi ada panggilan untuk membuat karena yakin semua berkat Roh Kudus,” papar George.

Soal model piala ada beberapa unsur dalam piala ini. Pertama, ada lambang burung Garuda. Bila ditengok Garuda di patung tidak seperti Garuda kontemporer tetapi milenial untuk menjawab kebutuhan anak muda. Kedua ada patung Yesus tergantung di salib untuk menggambarkan iman kita sebagai orang Kristen.

Ketiga ada patung malaikat. Bukan malaikat yang meniup sangkakala tetapi bermain harpa, untuk mejelaskan Pesta Paduan Suara. Keempat ada unsur budaya lokal Amboina yaitu sayap Garuda ada bolong sebagai gambaran Maluku sebagai Provinsi Kepulauan Maluku ada siput sebagai khasanah khas Maluku.

“Pesan utama yang mau disampaikan adalah dua piala ini kiranya menggambarkan Maluku sebagai laboratorium keberagaman. Karena itu unsur-unsur lokal, keindonesiaan dan keagamaan,” ujar George.

Sementara itu merefleksikan piala yang akan diperebutkan itu, Mgr Mandagi mengatakan dalam piala ini ada salib sebagai lambang pengorbanan. Pesparani ini melambangkan pengorbanan yaitu orang-orang yang berkorban demi suksesnya Pesparani.

 

 

Kemudian soal malaikat dengan harpa Mgr Mandagi mengatakan kita perlu bergembira karena ini pesta iman kita. Ia menyebutkan orang yang tidak bergembira berarti yang hatinya dihinggapi setan sehingga dalam dirinya tidak ingin berdamai. “Setan-setan itulah yang membuat indahnya toleransi dan saling menghargai menjadi hancur,” pungkasnya.

Bagian lain refleksinya adalah soal burung Garuda. Mgr Mandagi mengatakan hal ini sesuai dengan semboyan bangsa kita dan tema Pesparani yaitu Membangun Persaudaraan Sejati. Karena kita hidup bersama maka perlu membangun hidup dalam persaudaraan. Jangan menyebarkan hoax, politik kotor bagi orang lain,” harap Mgr Mandagi.

Yusti H Wuarmanuk

(sumber : http://www.hidupkatolik.com/2018/10/27/28002/dua-piala-pesparani-berunsur-keindonesiaan-keagamaan-dan-kebudayaan-lokal/ )

 

Ambon, 27 Oktober 2018. Panitia Pesparani I 2018 mengadakan Konferensi Pers untuk menjawab pertanyaan hadir tidaknya Presiden Jokowi di Pembukaan Pesparani I 2018, yang bertempat di Lantai 2 Kantor Gubernur Maluku. Dalam konferensi pers ini hadir Sekretaris umum Panitia lokal Titus Rahail, Ketua LP3KN Adrianus Eliasta Meliala, dan Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.

Ketua LP3KN Adrianus Eliasta Meliala menjelaskan bahwa panitia lokal maupun pusat sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghadirkan Presiden Joko Widodo. Tetapi semua keputusan tentu dengan pertimbangan lain sehingga beliau tidak berkesempatan hadir. “Meski begitu Presiden akan hadir secara digital lewat sambutan video kepada masyarakat Maluku secara khusus dan peserta Pesparani,” ungkap Adrianus dihadapan 40 wartawan baik nasional dan lokal,

Dipastikan Presiden Jokowi tidak akan menghadiri pembukaan Pesparani tingkat nasional I di kota Ambon. Dan akan diwakilkan oleh Menteri ESDM Ignasius Yonan untuk membuka pesta paduan suara umat Khatolik terakbar di tanah air ini.

Sebagai Tuan Rumah dari Pesparani Tingkat Nasional I 2018 di Ambon, Mgr Mandagi mengaku sangat bangga, dan senang bahwa pada akhirnya Pesparani Katolik yang sudah lama dinantikan oleh masyarakat Khatolik ini akhirnya bisa terlaksana dan untuk pertama kalinya dilaksanakan di kota Ambon.

Mgr Mandagi juga menjelaskan soal hakikat Pesparani sesungguhnya. Menurutnya ketidakhadiran orang nomor satu di negeri ini kiranya tidak mengurangi rasa sukacita sebagai satu kesatuan dalam acara ini.

“Ini merupakan pesta sukacita dan kegembiraan, jadi meskipun Bapak Presiden tidak datang tapi hadir secara lain, tetapi kegembiraan dan sukacita harus menjadi warna dari Pesparani ini” Tambah Mgr  Mandagi.

Mgr Mandagi mengatakan Pesparani adalah kesempatan untuk mempertobatkan diri kita sebagai umat yang percaya kepada Tuhan. Harusnya event besar ini melambangkan sebuah tahap dimana kita semua mau membangun kerukunan antar umat beragama tanpa sekat.

“Ini adalah momen membangun kerukunan antar umat beragama karena saat ini banyak orang karena politik menjadi ‘setan’ bagi orang lain. Setan sudah pensiun karena banyak orang Kristen sudah menjadi setan dengan tingkah laku yang tidak mencerminkan Kristus,” ungkap Mgr Mandagi.

Sementara itu Titus mengatakan sedikitnya 12.000 peserta sudah menyemut di Kota Ambon. Sebagai panitia mereka berharap agar segala sesuatu dapat berjalan dengan baik agar tersuksesnya kegiatan ini. (*)

 

Thursday, 25 October 2018 03:05

Lokasi Penginapan Peserta

Thursday, 25 October 2018 02:10

DAFTAR PESERTA

Page 2 of 50

Iklan Layanan Masyarakat

About

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku

Jl. Dr. Latumeten, Perigi Lima - Ambon

No.Telp/Fax :0911 – 342460

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

           
 

GPR

 

INFO BMKG

Top